Search This Blog

Thursday, June 16, 2011

KE AS

CATATAN PERJALANAN KE AS (1): KALIFORNIA

by SKH. SWARA KITA on Monday, November 16, 2009 at 11:02pm
Membuat Semuanya Terasa Penting

“Orang Indonesia sangat baik dan ramah, tetapi pemalu. Mungkin karena itu, Indonesia pun malu untuk gencar berpromosi. Padahal promosi itu sangat penting”.

Oleh
Hendra Zoenardjy

SEBUAH sindiran halus disampaikan Behrooz Kamalvandi, Duta Besar Iran untuk Indonesia, yang akan segera mengakhiri tugasnya 21 November 2009 ini. Pernyataan diplomat Timur Tengah yang dekat dengan wartawan ini disampaikannya pekan lalu, seperti yang dikutip dari harian Kompas edisi Jumat (13/11) lalu.
Benarkah orang Indonesia pemalu? Rasanya tidak. Apalagi orang Sulut. Namun, jika kemudian kita dinilai tidak gencar berpromosi, terutama untuk dunia pariwisata kita, sepertinya benar. Bahwa Indonesia—termasuk Sulut—sering mengikuti sejumlah iven promosi wisata, itu memang benar. Tetapi apakah kualitas dan kuantitas promosi itu tepat sasaran, inilah yang masih menjadi tanda tanya besar.
Dan jika Indonesia (dan Sulut) masih terjebak bagaimana mengemas promosi dengan baik, Amerika Serikat (AS) sudah berada dalam tataran komersialisasi dalam segala hal, termasuk dunia pariwisatanya.
Brand sebagai sebuah negara besar, membuat AS menjadikan segala apa pun yang ada di negaranya itu terasa begitu penting. Kemasan ini sudah terbukti pada perhelatan Piala Dunia 1994 lalu, di mana negeri Uncle Sam ini sukses meraup keuntungan besar. Tak heran jika dalam dunia wisata mereka, banyak tempat kemudian disulap dan diberi kemasan sebagai tempat penting yang harus dikunjungi.
Di Kalifornia, banyak tempat kemudian direferensikan menjadi lokasi yang harus dikunjungi. Mau wisata bahari, ada kawasan Newport Beach yang menawarkan sejuta lokasi. Untuk kawasan pegunungan, ada Yosemite National Park. Mau yang agak eksotik, ada Hearst Castle. Dan tentunya, kawasan Hollywood dengan segala dunia selebritasnya.
Hearst Castle dan Yosemite sempat saya kunjungi. Sebenarnya, kedua tempat ini tak istimewa-istimewa amat. Di Hearst Castle, hanyalah menumpukkan bagaimana sebuah kastil kuno yang megah. Untuk menempel kesan kemewahannya, maka ada studio bioskop yang memutar film doukumenter bintang-bintang Hollywood yang sering berkunjung ke kastil tersebut.
Pemandangan luarannya, terasa ada perpaduan antara pemandangan Danau Tondano dari kawasan Bukit Tampusu, dengan pemandangan perbukitan di daerah Bolmut. Yang satu ada aroma kesejukan yang dekat dengan air, sedangkan yang satu penuh dengan perbukitan yang selalu tandus jika sedang musim kemarau.
Begitu juga Yosemite National Park. Jualan pemandangan bukit berbatu yang dipadu dengan air terjun dan udara dingin khas pegunungan—kalau di Sulut suhunya terasa sama seperti di Modoinding—, sebenarnya tidak terlalu luar biasa. Hanya saja, itulah AS. Mereka bisa membuat semuanya jadi tampak memukau, dengan majemen wisata mereka.

MANAJEMEN
WISATA

Manajemen wisata AS merupakan sebuah kolaborasi interbirokrasi. Tak hanya institusi pariwisata semata yang bekerja sendirian, namun mereka bersinergi dengan institusi lainnya. Seperi Pekerjaan Umum, Kebersihan, Kehutanan, dan beberapa instansi terkait lainnya.
Karenanya, sebuah obyek wisata yang disodorkan menjadi benar-benar mudah dijangkau dan enak dinikmati. Hanya bermodalkan bus saja, para wisatawan sudah bisa nikmati menjelajahi area-area wisata di Kalifornia. Jalanan yang mulus dengan obyek-obyek wisata yang serba terawat, membuat tur menjadi bermakna.
Bagaimana dengan kita di Sulut? Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) terkesan masih jalan sendirian. Tidak pernah ada inisiatif dari institusi lain untuk mengerjakan proyek untuk pembenahan insfrastruktur pariwisata. Tak heran jika dermaga untuk ke Bunaken dan Siladen hanya bisa berharap dari kucuran dana untuk Disparbud.
Belum lagi koordinasi antara Disparbud Sulut dengan Disparbud di kabupaten/kota yang tak mulus, yang membuat banyak lokasi yang akhirnya terbengkalai. Siapa yang masih bisa melihat kejayaan Pantai Batu Nona di Minut? Atau, masih adakah kisah manis dari Air Terjun Tapahan Telu di Kali Pineleng? Semuanya sudah hancur.
“Harusnya kabupaten/kota yang menjadi ujung tombak, karena merekalah destinasi sebenarnya dari para wisatawan. Kita di provinsi hanyalah memfasilitasi saja,” begitu komentar Boyke Rompas, mantan Kadisparbud Sulut, yang kini sudah berpindah job menjadi Kadis Nakertrans Sulut.
Butuh kebersamaan memang. Melihat AS memenej wisatanya, mungkin terlalu jauh. Tapi, apa salahnya jika kita mulai dari hal yang sederhana dulu; yakni bagaimana menyatukan langkah antara dinas terkait untuk menjaga keberadaan aset wisata kita. Jangan-jangan 10 tahun depan kita hanya akan menikmati cerita, bahwa kita dulu sempat punya Pulau Bunaken dan Selat Lembeh, lokasi wisata bawah laut yang terkenal di dunia, yang sudah tak bisa dinikmati lagi.(bersambung)
Share

CATATAN PERJALANAN KE AS: KALIFORNIA (2)

by SKH. SWARA KITA on Monday, November 23, 2009 at 8:35am
Keistimewaan itu Datang dari Kemasan

“Apa beda rokok Amerika dengan rokok dari negara lain? Bedanya cuma dalam kemasan, sehingga rokok Amerika terasa lebih keren. Padahal, itu terjadi karena Amerika lebih pintar mengemas rokok, bukan karena rasanya. Padahal, untuk rokok harusnya rasa adalah segalanya, kan?”

Oleh
Hendra Zoenardjy

NAMANYA Mr Roger, pemandu wisata dalam city tour Los Angeles-San Fransisko yang saya ikuti di Amerika Serikat (AS). Pria asal Cina ini sudah lama bermukim di Amerika, dan kini menikmati hidupnya sebagai seorang guide yang memiliki kelebihan; yakni bisa menyampaikan keterangan dalam bahasa Inggris dan bahasa Cina.
Dalam perbincangan singkat dengan, Roger kemudian menjelaskan mengapa AS bisa lebih maju dalam setiap hal dalam kehidupan ini. Seperti halnya dalam permisalan soal rokok tadi, pria berambut cepak ini menunjuk cara memenej produk apa pun oleh AS, sangat luar biasa. “Itulah kelebihan Amerika. Mereka bisa membuat sesuatu jadi terasa spesial,” katanya.
Perumpamaan Roger terasa pas dengan fakta soal bagaimana mereka mengemas pariwisata lewat city turnya. Hal ini lebih terasa saat city tour di San Fransisko. Schedule yang tersusun cermat, dibarengi dengan kedisiplinan tinggi, membuat banyaknya obyek yang dikunjungi jadi terasa pas dan menyenangkan.
“Gini ini nih kalo mau meniru cara mengelola pariwisata. Kalau kita di Indonesia rata-rata masih amatir. Padahal, obyek-obyek wisata yang ada di sini, banyak yang masih kalah dengan kita punya di Indonesia,” kata Roy Saerang, kawanua asal Remboken yang kini bermukim di Bumi Serpong Damai Bekasi ini, yang bertemu dengan wartawan koran ini saat tur ke San Fransisko.
Taste yang pas sangat terasa dalam kemasan wisata di San Fransisko. Diawali dengan mengunjungi Golden Gate Bridge—alias jembatan San Fransisko—, Fisherman’s Wharf, Oakland Bay Bridge, Chinatown, Castro St, St Mary Church, Twin Peaks dan San Francisco City Hall. Referensi yang lengkap lewat narasi sang pemandu wisata, membius para turis sebelum kemudian mereka semua melihat lokasi tersebut.
Tak pelak, semua obyek wisata yang dikunjungi jadi terasa istimewa. Jembatan San Fransisko yang legendaris, benar-benar jadi jualan utama. Ditambah dengan hikayat Penjara Alcatraz yang sempat dihebohkan oleh ulah pelarian Al Capone—mafia terbesar AS—, maka sempurnalah kisah city tur di salah satu kota di Negara Bagian Kalifornia ini.

JUALAN
KHAS

Rasa khas lewat city tur di Kalifornia itu harusnya bisa diterapkan di Sulut. Kendati tak harus mengadopsi dengan segala kecanggihannya, namun beberapa keunikan dan jualan khas, tentu bisa dilakukan di bumi Nyiur Melambai. Kendati memang, sekali lagi, butuh kerja keras lintas sektoral.
Karena, Sulut punya aset luar biasa yang beberapa di antaranya belum tersentuh. Seperti Air Terjun Tunan di Dimembe Minut. Pesona yang luar biasa ini saya dan teman-teman dari Tim Jelajah Swara Kita (TJ-SK) penah tangkap. Sayangnya, keindahan ini seakan ditelan sepi. Pasalnya, selain keberadaannya masih di luar radar Pemkab Minut, keberadaannya masih terisolir.
Padahal, sedikitnya ada 6 air terjun yang bisa menjadi satu paket city tur di wilayah Minut-Tomohon-Minahasa ini. Karena selain Tunan, masih ada Tapahan Telu Kali Pineleng, Tinoor, Pinaras, Kiawa dan Nimanga. Hanya saja, sama seperti Tunan yang masih tersisolir, beberapa air terjun lainnya masih butuh sentuhan khusus. Seperti perbaikan infrastruktur di Kali, penataan di Pinaras, juga di Kiawa dan Nimanga.
Satu lagi yang terabaikan, obyek-obyek wisata ini kurang didukung mitos lokal. Padahal, banyak tempat wisata yang justru beken dengan mitosnya. Ambil misal Coban Rondo, alias Air Terjun Janda, di Kabupaten Malang Jawa Timur. Obyek wisata ini sebenarnya sama saja dengan air terjun-air terjun yang ada di Sulut. Namun, kemasan mitos janda membuat obyek wisata ini jadi begitu terkenalnya.
Legendanya, Putri Dewi Anjarwati, pengantin baru dari Gunung Kawi, menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmara. Saat usia pernikahan mencapai 36 hari (selapan), Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmara. Orang tua Dewi Anjarwati pun melarang kedua mempelai pergi karena mereka baru menikah selama selapan.
Namun, keduanya berkeras berangkat dengan segala risiko. Keduanya dikejutkan oleh hadirnya Joko Lelono, yang terpikat oleh kecantikan Anjarwati dan berusaha merebutnya dari Baron Kusuma. Perkelahian pun terjadi. Kepada pengawalnya, Baron Kusuma berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang ada coban-nya (air terjun). Keduanya gugur, Dewi Anjarwati pun menjadi janda (rondo, bahasa Jawa). Sejak itulah air terjun itu dikenal dengan Coban Rondo.
Tetapi di Sulut, semuanya dibiarkan apa adanya. Padahal, pasti ada kisah yang menjadi mitos seiring kehadiran lokasi-lokasi wisata itu. Kemasan inilah yang kurang diperhatikan dalam manajemen pengelolaan pariwisata di daerah ini, sehingga kita butuh belajar dan berani membuat terobosan ke depan untuk mengedepankan ke-khas-an kita.(bersambung)
@SF...golden gate bridge

No comments:

Post a Comment