Search This Blog

Wednesday, June 1, 2011

Impian menjadi kenyataan


Ubah impian menjadi kenyataan

PRINSIP-PRINSIP  YANG  MEMBANGUN KERAJAAN HIBURAN DISNEY INI BISA MENGUBAH KEHIDUPAN ANDA.
PADA tahun 1928, dalam keadaan shock, animator muda yang masih dalam tahap perjuangan naik kereta api menuju ke barat di New York. Walt Disney telah melancong ke timur untuk merundingkan perjanjian peredaran yang lebih baik bagi film kartunnya yang menampilkan Oswald Kelinci — hanya untuk diberi tahu bahwa distributornya memiliki hak cipta untuk si kelinci dan telah mendapatkan tanda tangan semua pelukis kunci Disney. Dengan kesal, Walt mengatakan kepada istrinya, Lilly, bahwa dia akan memikirkan tokoh baru. Sementara kereta api mulai berjalan, dia sudah mulai membuat coretan-coretan pada kertas gambarnya.
Di suatu tempat dalam jarak 900 mil antara Toluca, Illinois, dan La Junta, Colorado, Walt teringat kepada tikus ladang yang pernah duduk di atas papan gambarnya ketika dia baru memulai kariernya di Kansas City. Walt memutuskan untuk mengubah si tikus menjadi tokoh kartun dan memberinya nama Mortimer Tikus.
“Mortimer itu nama yang jelek sekali untuk seekor tikus,” Lilly berkeberatan.
“Nah, kalau begitu bagaimana kalau Miki?” Walt mengajukan saran. “Miki Tikus kedengaran bagus dan ramah.”
Tikus kecil dengan senyuman malu-malu, optimisme yang pantang mundur dan semangat mampu melakukan segala-galanya menjadi lambang keceriaan bagi orang Amerika selama masa Depresi — dan menjadi sensasi internasional. Pada zaman sekarang Miki Tikus menguasai kerajaan hiburan seluas dunia yang terbentang dari Disneyland di California Selatan ke Walt Disney World di Florida, dari Tokyo Disneyland sampai ke Euro Disneyland yang sedang dibangun dekat Paris – dan terus menuju hati bermilyar-milyar orang.
“Saya hanya berharap kita tidak pernah melupakan bahwa itu semua dimulai oleh seekor tikus,” Walt Disney sering berkata.
Apa yang mendatangkan sukses spektakuler bagi kerajaan bernilai $2,9 milyar ini? Apa yang memungkinkan Walt Disney Co. sanggup menahankan masa sulit – pada tahun 1954 keuntungannya hampir nol sama sekali — dan nyaris tidak dapat melepaskan diri dari cengkeraman perampok perusahaan? Organisasi ini makmur karena tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar yang dikembangkan oleh Walt Disney dan sekarang diterapkan oleh Michael Eisner, presiden direktur perusahaan. Lima rahasia keberhasilan Disney di bawah ini juga bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari setiap orang.
Pikirkan hari esok
“Walt selalu beroperasi mengikuti teori membuat hari ini membuahkan hasil besok pagi,” demikian kata saudara dan mitra usahanya, Roy O. Disney – seorang jenius bisnis di belakang kerajaan Disney. Memikirkan hari esok menyebabkan Walt Disney bisa mengatasi kekecewaan yang paling besar.
Bahkan Miki Tikus mula-mula merupakan kegagalan. Sekembalinya dari New York dengan gagasannya mengenai tokoh kartun seekor tikus, Walt menemui seorang pelukis yang masih tetap setia kepadanya, “Ub Iwerks. Iwerits membuat rancangan Miki dan membuat dua buah film kartun Miki Tikus yang pertama. Tetapi tidak ada seorang pun yang bersedia mengedarkannya: keduanya film bisu, dan film hicara sedang digilai orang. Maka Walt menggunakan teknologi baru ini. Kartun Miki Tikus yang ketiga. “Steamboat Willie,” mulai diputar pada tanggal 18 November 1928. Sebagai film kartun bicara yang pertama, film ini meledak di pasaran.
Walt juga meramalkan popularitas film cerita panjang akan mendesak kartun pendek dari jadwal pemutaran di bioskop dan karenanya film pendek tidak menguntungkan. Maka dia menciptakan film kartun panjang yang pertama di dunia. Snow White and the Seven Dwarfs mulai diputar pada tanggal 21 Desember 1937, dan lebih dari setengah abad kemudian masih tetap menjadi salah satu film yang paling menguntungkan sepanjang masa.
Bebaskan imajinasi
Dalam sebuah pertemuan pada tahun 1965 untuk membicarakan The Jungle Book, film cerita kartun terakhir yang pembuatannya langsung dipimpin oleh Walt, dia memberi tahu para animatornya bahwa sulit sekali bagi burung nasar untuk mendarat. “Sayapnya terlalu besar, sehingga daya angkatnya juga besar pula,” katanya. “Mereka tidak bisa tetap diam di tanah, terus menabrak-nabrak apa saja dan melambung-lambung ke atas.”
Animator sutradara Frank Thomas dan Ollie Johnson mengingat saat itu dalam buku mereka Too Funny for Words: “Tiba-tiba Walt mengepak-ngepakkan kedua sikunya naik turun seperti sayap dan tertawa sementara dia menirukan gerak burung yang besar dan lucu ini. “Dan mereka begitu berat sehingga kaki mereka nyaris tidak mampu menahan tubuhnya,” katanya. “Dan mereka tersungkur seperti ini. Setiap orang kini tertawa. Itu semacam inspirasi yang akhirnya biasa kami harapkan dari Walt.”
Walt Disney memahami bahwa orang biasanya bisa melakukan yang jauh lebih baik daripada yang diketahuinya. Ketika Walt menirukan gerak seekor burung, dia berusaha membebaskan imajinasi para animatornya dan membuat daya pengamatan mereka setajam daya pengamatannya sendiri.
Berusahalah mencapai kualitas yang tahan lama
Walt Disney tidak mau melepas sebuah film ke pemasaran sebelum film tersebut mempunyai kualitas yang dipikirnya akan tahan lama. Pada tahun 1938 setelah enam bulan mengerjakan film Pinocchio, Walt tiba-tiba menunda produksi: film itu sama sekali tidak punya hati. “Saya rasa apa saja yang tidak punya hati tidak bagus dan tidak akan tahan lama,” katanya. “Bagi saya, humor melibatkan tawa maupun air mata.”
Pemecahan Walt adalah membuat cengkerik yang bisa bicara (yang terbunuh pada awal cerita menurut bukunya) hidup dalam film dan berlaku sebagai hati nurani Pinokio. Untuk menyesuaikan dengan kepribadian si cengkerik yang aneka warna, dia dicat dengan 27 macam warna — “bukan hanya warna biru untuk topinya, jingga untuk rompinya dan kuning untuk pelindung mata kakinya, tetapi juga warna yang berbeda-beda untuk kelopak matanya, bagian dalam mulutnya dan bagian bawah kakinya,” kata animator sutradara Ward Kimball.
Biaya untuk kesempurnaan seperti itu tentu saja sangat tinggi. Disney membuat Snow White dengan biaya $1,5 juta; biaya untuk Pinocchio melambung menjadi $2,6 juta. Tetapi, sebagaimana Walt pernah mengatakan, “Kalau pertunjukannya cukup bagus, publik akan membayar kita kembali.”
Teguhlah memegang prinsip
Sejak masih kecil, saya ingin bertemu dengan Walt Disney untuk mempelajari rahasianya membuat impian menjadi kenyataan. Maka ketika saya berumur 17 tahun, saya pergi ke California dan berhasil bertemu dengannya.
Di rumahnya di Holmby Hills, pada suatu hari Minggu di bulan Agustus tahun 1951, Walt mengatakan kepada saya bahwa salah satu rahasianya adalah kegigihan, keteguhan memegang prinsip, atau “stick-to-it-ivity” — sebuah kata ciptaannya sendiri yang diubahnya menjadi lagu dan dinyanyikan oleh burung hantu kartun dalam film So Dear to My Heart (1949) .
Kurang dari sebulan sebelum saya bertemu dengan Walt, film ceritanya Alice in Wonderlandmengecewakan dalam hal penjualan karcis. (“Alice tidak punya hati,” Walt mengatakan kepada saya dengan terus terang. “Orang punya perasaan untuk Snow White. Tapi tidak demikian halnya dengan Alice.”)
Saya mengetahui kemudian bahwa kegagalan film itu merupakan pukulan keras bagi Walt karena hal itu meyakinkan saudaranya Roy bahwa itu waktu yang kurang tepat untuk menggunakan uang studio untuk membangun sebuah taman tema film. Taman itu merupakan impian Walt sejak anak-anak perempuannya masih kecil dan dia mengajak mereka ke taman ria dan kebun binatang. Karena menganggap hari-hari itu sebagai salah satu saat yang paling bahagia dalam hidupnya, dia ingin merancang tempat seperti itu untuk kesenangan orang lain.
Tetapi kegagalan Alice hanya menghambatnya untuk sementara. Dia menggadaikan polis asuransi jiwanya untuk mendapat uang $100.000, kemudian membayar seorang perencana dari kantongnya sendiri untuk membuat desain yang pertama. Pada tahun 1955 Disneyland dibuka di Anaheim, California.
Dengan pembuatan taman ini dan semua kreasinya yang lain, Walt tidak pernah menyimpang dari tujuannya. Dia pernah memperhatikan bahwa seorang kondektur kereta api di Disneyland memperlakukan pelanggannya dengan ketus. “Beri orang itu pengertian yang lebih baik mengenai bisnis kita,” kata Walt kepada asistennya. “Kalau kau tidak bisa membuatnya jadi periang, dia tidak boleh bekerja di sini. Kita menjual kebahagiaan.”
Bersenang-senanglah
“Cara untuk membuat apa saja berhasil adalah dengan tidak khawatir,” kata Walt kepada saya, “dan tertarik kepada gagasan kecil yang kelihatannya menyenangkan — seperti membayangkan apa yang akan dilihat Peter Pan ketika dia terbang di atas London.”
Dengan tangan, suara, mata dan alisnya yang fasih, Walt Disney bisa membuat saya melihat Peter Pan dan anak-anak terbang tinggi di atas Sungai Thames yang
berkelok-kelok, lampu-lampu kereta kuda yang berkedip-kedip di jalan jauh di bawah. “Peter Pan dan anak-anak mungkin bahkan bertengger sebentar pada jarum jam Big Ben,” kata Walt kepada saya, “sebelum terbang menuju Negeri Dongeng: ‘Bintang kedua belok kanan dan terbang lurus sampai pagi tiba.’” Saya merasa terpesona.
Sekarang ini di Disneyland dan Walt Disney World, berjuta-juta orang menunggang atraksi “Penerbangan Peter Pan,” menempuh perjalanan yang sama seperti yang diperikan oleh Walt Disney dengan penuh kesenangan 37 tahun yang lalu.
Lama setelah kematian Walt — karena kanker paru pada tahun 1966, pada umur 65 tahun — orang-orang Disney masih bersenang-senang. Demikian pula berjuta-juta orang lainnya di seluruh dunia, berkat jasa lima rahasia Walt Disney untuk membuat impian menjadi kenyataan. (Diambil Om Kicau dari majalah “Sukses dan Prestasi” yang tertumpuk bersaput debu di pojok gudang…)

No comments:

Post a Comment