Search This Blog

Monday, January 16, 2012

Survey dulu ke hostel

Gros Bisous de Paris!

Bonjour et bienvenue a Paris!

Dua tahun kerja di perusahaan Prancis, tidak sekali pun kebagian pergi ke Paris, yah begitulah nasib bekerja di finance, di saat department lain seperti HRD, Public Relation, Registration, dan Legal mendapatkan training ke Paris, di finance paling jauh juga ke Shanghai, loh kok jadi curcol yah, hehe. Tapi, seperti kata pepatah, "Ketika perusahaan tempatmu bekerja tidak kunjung membawamu ke Paris, maka kamu ke Paris dengan usaha sendiri". Yak itulah pepatah yang baru saya ciptakan satu menit yang lalu. Sejujurnya saya ke Paris karena nemu tiket pesawat air asia promo yang luar biasa menggoda dan tentunya Paris gitu lho.

La Tour Eiffel

Impressions

Paris yang angkuh, bukan tanpa sebab, Paris kota besar yang cantik, setiap sudut kota dipenuhi dengan bangunan-bangunan indah dan landskap kota yang menawan, karya-karya seniman ternama pun bertebaran di berbagai tempat. Saya sempat menonton sebuah film Prancis hitam putih di Ljubljana, dan saya sangat kagum ternyata kota Paris yang saya lihat saat ini ternyata tidak jauh berbeda dengan ketika film itu dibuat, kecantikan dan keanggunan Paris sudah ada sejak dulu. Hebat.

How to get here

Saya terbang dari Jakarta dengan transit di KL, perjalanan Jakarta-KL sekitar 2 jam, lalu perjalanan KL-Paris kurang lebih 13 jam. Sejujurnya ketika memutuskan mau ke eropa, saya tidak terpikir akan naik air asia, bahkan saya sudah menganggarkan untun naik airline biasa seperti garuda atau emirates, dsb. Namun, siapa yang bisa tahan godaan promo yang begitu memikat, jadi tanpa berpikir panjang saya pun membeli tiketnya. Ketika membeli tiket saya hanya membeli tiket saja tanpa tambahan apa-apa, baru ketika sudah mulai mendekati waktunya saya membeli bagasi 20 kg dan makanan pesawat untuk penerbangan KL-Paris (dapat 2 kali makan). Ke Eropa dengan budget airline ternyata tidak seburuk yang dibayangkan dan dikatakan orang-orang, pesawatnya besar (dengan seat 3-3-3) karena termasuk Air Asia X, dan beruntungya saya karena pesawat tidak penuh maka 3 kursi di satu baris bisa untuk saya semua sehingga bisa tidur dengan posisi tidur beneran, sebagus apapun airlineya kalau penuh, mana bisa dapat privilege seperti ini? Untuk hiburan air asia menyediakan alat seperti ipad untuk menonton film, mendengarkan musik, dll seharga 100 ribu kalau tidak salah. Namun, karena saya membawa laptop tentu saya bisa menonton film atau lainnya dengan laptop, laptop hanya tahan 4 jam tapi cukup lah untuk hiburan. So far penerbangannya baik-baik saja, tadinya sih berharap sebelahan sama cowo ganteng lalu terjalinlah kisah asmara sesaat yang penuh kesan mendalam (semacam before sunrise gitu deeeh), hehe, tapi saya tetap bersyukur juga karena sepi saya jadi bisa tidur dengan nyaman.

Accommodation

Lagi-lagi saya merasa beruntung karena di tempat pertama saya datang sudah ada teman yang saya kenal dan sekaligus menumpang tinggal. Ada teman kantor saya bernama Bu Rini yang sedang training di Paris pada minggu ketika saya datang, sehingga saya tinggal di Holiday Inn Clichy Paris selama 2 malam. Lokasi hotelnya dekat dengan kantor pusat  perusaahaan tempat saya bekerja dulu, lokasinya sih sejujurnya agak bronx karena banyak imigran di sana, well beggar can't be chooser, righ? Tapi enaknya tempatnya nyaman, standar hotel lah, bisa wifi, kamar privat, dapat sarapan buffet, dan tentunya bisa mengantongi beberapa croissant dari sarapan sebagai bekal sightseeing. Jarak hotel ke metro station terdekat (Port de Clichy) sekitar 8 menit jalan kaki.

Pertama kali menjejakkan kaki ke paris di airport (tentunya..), setelah mengambil tas dari conveyor saya sempat mengecek backpack saya dan menemukan ternyata sabun cair yang saya bawa bocor, hrrrr, mungkin bukan ide bagus membawa perlengkapan mandi banyak-banyak. Pada saat itu saya belum melakukan research bagaimana cara tercepat dan efisien dari ORLY ke pusat kota. Saya lalu berjalan menuju pusat informasi untuk bertanya bagaimana cara-nya ke metro station Port de Clichy. Si mbak petugas sempat bilang saya sebaiknya naik bus, dan tiket bisa dibeli di dalam bus, saya pun berjalan keluar gedung dan menemukan eskalator, saya pun naik dan ada kereta sedang berhenti, saya naik saja dengan tampang plonga-plongo. Seorang nenek melihat muka saya seperti itu bertanya kemana tujuan saya.
Nenek: "Kamu mau kemana dik?"
Saya: "Saya mau ke metro Port de Clichy nek, kata mbaknya sih naik bus"
Nenek: "Lha, terus ngapain ada di kereta ini? Kamu udah beli tiket kereta ini belum?"
Saya: "Nggak tuh nek, emang harus ya? Tadi si mbak gak bilang apa-apa, kirain bisa beli di dalem"
Nenek: "Wah kalau gitu sebaiknya kamu turun saja karena untuk naik kereta ini harus beli tiket dahulu"

Untung kereta masih ngetem, saya pun langsung cepat-cepat keluar dengan bingung, akhirnya menemukan tangga turun ke bawah lalu saya turun saja dan di bawah ada beberapa bus sedang ngetem, akhirnya saya naik saja salah satu bus itu, ternyata saya masih harus menyambung metro lagi, dari pemberhentian bus itu juga harus jalan lagi untuk mencapai metro station, harap diingat saya membawa ransel seberat 16 kg dan tas seberat tidak kurang dari 5 kg. Sampai metro station saya kebingungan untuk membeli tiket metro di mesin, karena bahasanya prancis dan tidak tahu cara gantinya, akhirnya ada seorang cowo yang berbaik hati membantu membelikan tiket metro. Akhirnya sampai lah saya di metro stop Port de Clichy, keluar metro station saya tidak ada ide ke arah manakah si Holiday Inn itu, bertanyalah saya kepada orang di pinggrir jalan yang tentunya di jawab dengan bahasa prancis, mengikuti petunjuk orang tersebut saya berjalan saja, walaupun gak yakin bener atau tidak, setelah hampir mewek dan memutuskan mau naik taksi akhirya saya melihat juga si Holiday Inn ada di seberang jalan. Sampai juga akhirnya setelah perjalanan yang terasa panjang dan menyiksa itu.

Kamar di Holiday Inn Clichy

Karena Bu Rini hanya ada di Paris sampai weekend, maka pada hari Sabtu siang pun saya harus angkat kaki dari zona nyaman Holiday Inn. Turun derajat deh jadi hostel. Karena tidak sempat dan harus mengejar pesawat, bu Rini tidak sempat mengantarkan saya naik taksi ke hostel saya St. Christopher di Rue de Crimee. Tidak mau mengulangi kesalahan amatir mencari hostel sampe gempor dengan membawa backpack maka saya memutuskan untuk mensurvey dulu ke hostel tersebut tanpa membawa backpack, sementara itu backpack saya titip di Hotel. Perjalanan dari holiday inn ke hostel cukup mudah, perlu naik bis sekali lalu 10 menit berjalan kaki dengan rute lurus saja. Namun semudah-mudahnya naik bis sekali tetap saja sempat ada kejadian salah naik bus, nomer bus sudah benar tapi salah arah. Huehehe. Sebenarnnya kalau mau tidak bersusah payah bisa naik taksi dengan biaya sekitar 30 EUR. Maaf saja deh. Hostel saya ini cukup terkenal dan hostel besar, lokasinya cukup dekat dengan metro station terdekat, kurang dari 10 menit berjalan kaki, kamar dan kamar mandi bagus dan bersih, fasilitas lengkap, ada wifi namun harganya agak mahal sekitar 32 EUR satu malamnya, mungkin itu karena weekend.

Kamar hostel St. Christopher, Paris
Things to do and see

Day 1 (15 Sep 2011):

Sampai di Holiday Inn siang hari, setelah beres-beres si sabun cair tumpah dan membersihkan diri (mandi) dan tentunya update status twitter (penting banget) saya pun jalan-jalan sore ke daerah Montmartre yang letaknya di atas bukit dimana ada satu gereja yang cantik yang dikenal dengan sebutan La Basilique du Sacré Coeur, tempatnya lumayan oke untuk duduk-duduk santai  di tangga menikmati sore hari dan sunset, duduk bersama puluhan orang lain dan bisa melihat pemandangan kota Paris karena letaknya di atas bukit. Ada juga beberapa pemusik jalanan yang menghibur. Di sini sempat mengobrol sama seorang cowo dari Aljazair kalau tidak salah, lalu kami mulai berjalan-jalan di sekitar situ, eh tapi lama-lama kok doi mengajak jalan ke tempat sepi ya? Saya langsung berusaha menjauh dari tempat itu dan kembali ke keramaian, perasaan mulai agak gak enak, tapi untung akhirnya doi pergi juga. Di daerah ini memang lumayan banyak imigran terutama dari Afrika Utara, ada keuntungannya yaitu bisa menemukan makanan halal dengan mudah, seperti kebab dan harganya tidak terlalu mahal untuk ukuran Paris. Harga suvenir di sini juga cenderung lebih murah, untuk magnet EUR 10 bisa dapat 6 (EUR 5 untuk 3), dimana di tempat lain EUR 10 hanya dapat 3 atau 4. Dari situ saya lalu melanjutkan ke Moulin Rouge karena tempatnya cukup dekat, namun karena tidak punya peta saya naik metro. Di sini saya hanya berfoto di depan gedungnya saja karena kebetulan saya suka film Moulin Rouge. Sebenarnya tempat ini merupakan gedung pertunjukan cabaret namun saya tidak masuk karena tidak ada budget untuk itu.

La Basilique du Sacré Coeur

View from Basilique du Sacré Coeur

Montmartre

Moulin Rouge


Day 2 (16 Sep 2011):

Karena baru awal perjalanan tentunya persediaan uang masih banyak, di pagi hari saya mengunjungi Château de Versailles, istana kerajaan di Paris yang megah, indah, dan spektakuler. Selain istana yang mewah, di sini juga ada taman yang luas dan cantik. Letaknya agak di luar kota Paris sekitar 1 jam dari Paris dengan RER (salah satu  mode trasportasi di Paris), untuk menuju ke sana bisa menggunakan tiket metro dalam kota Paris namun untuk kembali ke Paris tiket metro dalam kota tidak bisa digunakan dan harus membeli tiket kereta lagi seharga EUR 3.
Kereta RER yang jadul

 Saya pergi agak siang dan baru sampai sekitar jam 12 siang sehingga perlu mengantri sekitar 40 menit untuk membeli tiket masuk, harga tiket EUR 16.5, sudah termasuk audio guide, namun tidak ada pilihan tanpa audio guide. Walau mahal namun cukup worth it karena mungkin ini adalah palace termegah di eropa sehingga kalau sudah masuk ke sini tidak perlu lah masuk ke palace di kota lain (kecuali gratis). Istananya luas, megah dan mewah, kita serasa di bawa ke ratusan tahun yang lalu dan audio guide membantu kita jadi tahu fungsi dari setiap ruangan yang ada dan penjelasan mengenai lukisan dan lainnya. Ingin tahu seberapa besar istana kerajaan ini? Ada sekitar 2300 ruangan di sini dan rasanya cukup menjelaskan luasnya. Sediakan waktu paling tidak 2 jam untuk berkeliling seluruh bagian istana dan menikmati taman di luarnya. Di tempat membeli tiket masuk ini saya  juga beli tiket untuk museum Louvre dengan tujuan untuk menghindari antrian untuk besok masuk ke sana  namun ternyata antriannya tidak terlalu panjang kok, mungkin antrian panjang terjadi ketika high season seperti summer.

Château et Jardin de Versailles

Dari Versailles saya kembali ke hotel lalu sore hari bersama bu Rini dan teman training-nya dari Brazil kami berjalan-jalan di Champs-Élysées (baca: sangelise), kawasan elit di kota Paris dimana banyak toko barang bermerk seperti Louis Vuitton. Saya hanya berjalan-jalan menikmati sore hari namun saya melihat banyak turis dari Asia seperti Jepang yang berbelanja barang bermerk tsb, wah tajir juga mereka. Di ujung jalan ini ada monumen Arc de Triomphe yang terkenal. Monumen ini dibuat untuk mengenang para pahlawan yang gugur dalam Revolusi Prancis. Ternyata selain toko-toko mahal ada juga beberapa toko yang cukup terjangkau seperti H&M, kalau lupa bawa coat bisa beli di sini nih. Setelah berbelanja (Bu Rini) dan berfoto-foto (saya) kami melanjutkan makan malam di fast food Quick yang cukup terkenal, harganya sekitar EUR 5-6 untuk menu paket. Setelah itu saya dan Bu Rini mampir ke menara Eiffel untuk berfoto, dan sempat melihat Eiffel kelap-kelip yaitu setiap jam 10 malam.

Arc de Triomphe

Champs-Élysées

Champs-Élysées
Saya dan Bu Rini

Quick fast food dan sambel ABC

Day 3 (17 Sep 2011):

Bersama dengan bu Rini saya pergi ke Museum Louvre (http://www.louvre.fr/en/homepage) di pagi hari, Seperti kebanyakan turis lain pertama kami langsung menuju lukisan monalisa karya Leonardo da Vinci yang tersohor itu (La Joconde dalam bahasa Prancis) yang surprisingly kecil dengan ukuran 77 x 53 cm. Jujur saja karena tidak terlalu mengerti seni, maka approach saya ketika berkunjung ke museum adalah dengan melihat daftar masterpieces dari museum di brosur, lalu berusaha untuk melihat semua masterpiece yang ada, namun karena saya tidak sendiri maka tidak bisa bebas dan semau saya dan karena kebetulan bu Rini sudah kecapekan alhasil saya tidak sempat melihat semuanya, sedikit kecewa tapi ya sudah lah. Beberapa masterpieces yang terkenal dan sempat saya lihat untuk patung ada Venus de Milo, Victoire de Samothrace, L’esclave rebelle (Michelangelo), Psyche ranimee par le baiser de l’amour (Antonio Canova). Untuk lukisan diantaranya Sacre de l’empereur Napoleon (Jaques Louis David), La liberte guidant le peuple (Eugene Delacroix), Ange en adoration (Fra Angelico), Monalisa (Da Vinci). Musem Louvre ini tutup setiap hari selasa.

Monalisa by Da Vinci



Louvre's collection
Louvre's view


Setelah itu saya berfoto di depan piramid di depan museum. Kami lalu makan siang dan setelah itu kembali ke hotel untuk mengambil barang karena bu Rini sudah harus berangkat ke airport. Saya menitipkan backpack di hotel lalu melakukan survey dulu hostel tempat saya menginap supaya saya mengetahui persis dimana letak hostel tersebut agar ketika saya kembali ke sana dengan backpack tidak tersesat. Seampainya di St. Christopher hostel, saya lalu cek-in dan beristirahat sebentar. Lalu saya pergi mengunjungi Grand Mosque of Paris karena penasaran saja ingin mengunjungi mesjid terbesar di Paris, sekalian sholat tentunya. Mencari mesjid ini cukup memakan waktu karena letaknya masih agak jauh dar metro station dan saya sempat salah mengambil jalan juga dan saat itu saya tetap tidak punya peta kota, hanya peta metro saja.

Grand Mosque Paris

 Dari mesjid saya memutuskan untuk kembali ke Louvre karena saya pikir masih buka sampai jam 8 saya mau melanjutkan melihat mahakarya di sana, eh ternyata hari sabtu jam 6 sudah tutup, tapi tetap worth it untuk mengambil foto piramida di malam hari, pemandangan yang surreal dan stunning. Ketika sedang berfoto inilah saya bertemu 3 orang Indonesia, yaitu Sanjay, Viga, dan Nadia. Kami pun mengobrol, lalu saya memutuskan untuk bergabung bersama mereka daripada jalan sendiri, lumayan ada teman. Sehabis berfoto di Louvre, kami lalu jalan bareng ke menara Eiffel (metro station: Champ du mars, for better view), makan di restoran Tibet yang sangat tenang. Ketika kami memutusan untuk pulang malam sudah mulai larut dan demi alasan keamanan Sanjay menawarkan kami semua untuk menginap di apartmentnya di kawasan La Defense.

Teman-teman baru ketemu di Paris (ki-ka: Nadia, Sanjay, Viga)

Day 4 (18 Sep 2011):

Pagi hari saya kembali ke Holiday Inn untuk mengambil backpack saya dan ke hostel untuk mandi dan lainnya. Karena agak santai baru sore hari saya keluar dan tujua saya kali ini adalah menara Eiffel (lagi) karena belum mendapatkan foto Eiffel di kala hari terang. Setelah lebih dari 1 jam puas berfoto dengan berbagai pose, tiba-tiba ada 2 orang cowo yang mengajak kenalan, mereka ini dari Mesir, salah satu dari mereka ternyata terpikat pada kecantikan saya sejak pertama kali melihat saya (ih, geli banget nulisnya deh), padahal sedari tadi di situ saya cuma duduk-duduk sambil pose narsis gak keruan. Singkat kata akhirnya saya jalan bareng lah sama mereka berdua sampai akhirnya kami pun pergi makan malam di daerah Montmartre, saya sih tidak menolak, lumayan makan malam gratis, saya bahkan membungkus makanan yang sisa untuk sarapan dan makan siang keesokan harinya (Ya Allah, kadang saya bisa begitu murahan! Hehehe). Untungnya sih tidak terjadi apa-apa, dalam keadaan seperti ini saya selalu menggunakan insting untuk menilai keadaan apakah cukup membahayakan atau tidak, so far insting saya cukup bagus. Kalau dipikir-pikir agak mengerikan juga sih, tapi ya sudah lah, saya percaya 100% deh sama insting.

Menara Eiffel


Day 5 (19 Sep 2011):

Hari terakhir saya di Paris pertama saya melakukan survey dulu bagaimana cara ke airport ORLY dari situ, dan ternyata ada cara yang lebih praktis dibandingkan naik bus seperti ketika saya datang dulu. Untuk ke airport ORLY bisa dengan naik orly train, sebelumnya naik RER B samoai metro station Antony lalu naik Orly Val (EUR 8.5) langsung sampai ORLY. Tujuan survey tak lain supaya tidak perlu ada acara nyasar ketika saya membawa backpack nantinya. Setelah itu saya mengunjungi Notre Dame Cathedrale, masuk ke dalam gerejanya (gratis) dan berjalan menyusuri sungai Seine sambil menikmati pemadangan cantik musim gugur kota Paris. Selanjutnya saya harus naik pesawat jam 18.30 ke Barcelona.

Notre Dame Cathedral

Budget and useful tips

* Membeli 10 tiket metro lebih murah dibandingkan membeli satuan (single journey: EUR 1.8, 10 tiket: EUR 12.5). Tiket ini dapat digunakan untuk berbagai mode transportasi, metro, RER, bus, dll.
* Untuk menghemat (ini ilegal ya tapi) metro bisa melompati palang perintang atau masuk melalui pintu keluar, ketika ada orang keluar langsung menerobos masuk, atau beli tiket metro 1 untuk 2 orang, jadi melewati palang perintangnya bersama. Huehehe. Harap diingat jika kamu mau melakukan ini resikonya cukup tinggi ya, pikirkan baik-baik.
* Selalu ucapkan Pardon (baca: pardong) ketika akan turun dari metro, penting agar diberikan jalan untuk keluar.
* Museum Louvre gratis tiket masuk setiap 1st Sunday of the month.
* Cukup banyak free attraction di Paris seperti berjalan-jalan di Champ Elysees Avenue, taman di menara Eiffel, Notre Dame cathedral, dll. Berjalan-jalan di bagian manapun kota Paris juga pasti menyenangkan.

Actual expense

1. Inter city transport (incl tiket dari ke airport): EUR 42.45
2. Hostel St. Christopher (2 malam, termasuk sarapan): EUR 63
3. Meal: EUR 14.7 --> murah karena beberapa kali ditraktir
4. Sightseeing (Chateu Versailles dan Louvre): EUR 30.7
5. Luggage storage hostel: EUR 4 --> sebel gak sih udah semahal itu hostelnya buat kayak ginian aja musti bayar lagi.
TOTAL: EUR 154.15

Untuk transport dalam kota agak mahal karena transpot dari dan ke airport saja kurang lebih EUR 20 itupun pakai public transport. Metro sangat diperlukan, agak susah untuk jalan kaki karena Paris luas.

Sekian catatan perjalanan saya di Paris. Kalau ada yang bilang Paris mahal itu memang benar, saya sangat beruntung mendapatkan bantuan yang bisa menghemat pengeluaran.

Segitu aja untuk Paris, gimana, masih tertarik gak ke Paris? Kalau saya sepertinya gak pingin-pingin amat kembali ke Paris kecuali kalau gratisan. Hehehe.. So, where's next? See you in Barcelona (my next posting...)

Bisou Bisou xxxx


3 comments:

bunda kanaya said...
duh mbak... keren banget siy... jalan2 ke eropa sendirian...klo saya mah udah ilang kali.... hehehe... salam kenal ya...
Rheta Arheta said...
huhu.. ngileerrrr ... bisa jadi panduan aku kalo jadi pergi kesana.. :p btw.. salam kenal ya mba ;) Bisou xx
Niantiaulia said...
Salam kenal juga yah :D Thanks for reading!

No comments:

Post a Comment