Search This Blog

Wednesday, January 11, 2012

Florence, milan, pisa, venice

ITALIA Bagian 2

Milan-Verona-Venice-Florence-Pisa
Venice...ingin kukembali
Pagi hari tanggal 7 April 2011 berada Milan, sorenya menuju Verona. Menginap 1 malam di Verona, esoknya 8 April 2011 pagi-pagi jalan lagi menuju Venice dan sore menuju Florence. Menginap semalam di Florence, tanggal 9 April sore hari menuju Pisa dan malamnya kami take off by Easyjet dari Pisa menuju London. Itulah perjalanan singkat kami di 5 kota Italia (selain Roma) dengan waktu 3 hari/2 malam.
-   7 April 2011 : Milan – Verona (menginap di Verona) -   8 April 2011 : Venice – Florence (menginap di Florence)
-    9 April 2011 : Pisa – London (bermalam di Gatwick Airport London)
-  10 April 2011 : Take off dari London Stansted ke Kuala Lumpur
senangnya Rey main PSP tanpa khawatir low batt
Di kelima kota tersebut saya memiliki strategi yang sama yaitu mencari left luggage atau tempat penitipan koper di stasiun.  Hal itu untuk memudahkan perjalanan kami menuju destinasi wisata yang dituju. Biaya menitipkan 2 buah koper masing-masing dengan berat 23 kg dan 20 kg serta 1 buah ransel dengan berat 10 kg adalah antara €10 – €12 (1 buah ransel tidak dititipkan karena berisi dokumen dan barang penting lainnya). Sedangkan untuk urusan makanan, karena perbekalan sesuai rencana telah habis saat di Roma, maka kami menikmati wisata kuliner yang diidamkan yaitu pizza, spaghetti, lasagna dan sandwich.
kelas 2 kereta Trenitalia
Saat naik kereta Trenitalia Rey bertanya, “Mami, kereta kelas 2 kok bagus sih, mahal nggak harganya?, sok tua banget deh Rey kali ini pake nanya harga segala. Ternyata dia sedang membandingkan kereta Parahyangan Bandung-Jakarta yang pernah kami naiki saat masih beroperasi. Karena baru sekali itu saya mengajak Rey bepergian ke luar kota dengan kereta di tanah air. “yah dibanding kereta parahyangan mahalan ini sayang”, “oh pantesan dong, kursinya bagus, keretanya bersih, mejanya juga keren. Yang paling asik ada electric socketnya buat ‘ngecas’ PSP jadi bisa main terus karena nggak bakal low batt” timpalnya riang. Oya perjalanan antar kota menggunakan kereta, membuat kami harus ‘berjuang’ menaikkan dan menurunkan 2 buah koper dan 2 buah ransel. Tapi Alhamdulillah selalu ada saja orang yang membantu kami untuk itu. Suwun sanget Gusti….
Rey dg coat barunya yg beli di Milan
wajah panik, shopping berpacu dg waktu
Milan. Saya tertarik dengan Buenos Aires, dan hanya Buenos Aires yang bisa kami datangi mengingat waktu yang dimiliki sangat singkat. Sebagai pencinta mode kok rasanya ‘hambar’ kalau tidak mampir ke salah satu kota mode terlengkap di dunia ini. Sejak di Bandung Rey sudah menyetujui, bahwa di Milan ‘bagian’ mami. Namun hikzzzz…..dengan waktu yang sangat sempit (hanya sekitar 5 jam) saya merasa begitu panik dengan segala apa yang saya lihat disini. Ini mau…itu mau…ini suka…itu suka…ini bagus…itu bagus….aaaahhhhh semuanya pengen dibeli. Kalau tak ingat berat bagasi pengennya membeli semua yang saya mau. Tapi akhirnya akal sehat segera memberi sinyal….”Adel don’t be crazy” hahahaha. Sambil menghela nafas akhirnya saya hanya memutuskan membeli 5 pasang sepatu boot (OMG…begitu kata sebagian teman) tapi berasa kurang bagi saya hehehe. Selain sepatu saya membelikan Rey long coat yang selama ini dia impikan, wah harga coat ini membuat saya puas karena sedang promo dari harga €160 menjadi €75, Oh…..senangnya. Dan merk ini di mall-mall terkemuka Indonesia ada di kisaran harga 2,5 juta rupiah. Yeeeeees berhasil….berhasil…horeeeeee, nggak sia-sia jauh ke Milan dapet barang original branded dengan harga miring.
Yang menjadi perhatian saya selama travel di negara-negara Eropa, tak pernah saya lihat adanya orang (wanita khususnya) yang memakai tas ‘aspal’ atau yang biasa disebut ‘KW-sekian” kalau di Indonesia. Ternyata benar apa yang ditulis para fashionista di milis  bahwa jangan sekali-kali memakai barang palsu saat melancong ke Eropa, karena  sering ada ‘sidak’ dan kalau ditemukan barang palsu akan langsung mereka rusak saat itu juga di TKP hahaha mantaaaaap. Untungnya, saya bukan penyuka atau ‘anti’ memakai barang-barang aspal karena selain pertimbangan kualitas, juga suka merasa risih memakainya. Bukan sok branded tapi saya mempunyai pemikiran kalau nggak bisa beli yang asli ya beli aja barang dengan kualitas baik walau tanpa merk terkenal. Barang seperti itu banyak kok ditemukan di negara kita. Jadi untuk apa merasa nggaya dengan merk dunia tapi palsu hehehe.
Balkon @Rumah Juliet
patung Juliet
Jembatan Ponte Nuova, Verona
Verona. “disini juga masih jatah mami ya” bisik Rey sesaat kami sampai di Hotel,  saya hanya tersenyum menanggapi bisikannya itu.  Saya dan Rey hanya perlu berjalan selama 10 menit menuju rumah Juliet, tujuan saya ke Verona.  Sebenarnya tak ada yang istimewa disini namun saya sangat menyukai kisah cinta sepanjang masa karya Shakespeare, Romeo & Juliet. Hal itu memunculkan sisi romantisme yang telah sekian lama tak pernah saya munculkan. Berbeda dengan saya, Rey justru tertarik dengan jembatan yang kami lintasi dari hotel menuju rumah Juliet. Jembatan itu bernama Ponte Nuovo, ”mami liat tuh ada yang mau bunuh diri” Teriaknya sambil menunjuk ke bawah jembatan, serta merta saya mengarahkan pandangan sesuai arah jari telunjuk Rey. Memang jarak pandang dari atas jembatan ke bawah sana cukup jauh sehingga tak jelas apa yang terlihat. Tak kehabisan akal saya gunakan handycam dan zoom-in untuk melihat ada apa sebenarnya. Ternyata oh…ternyata bukan orang mau bunuh diri tapi orang yang sedang berlatih olahraga semacam dayung, dan bukan hanya seorang karena tak lama kemudian datang beberapa pedayung lainnya. Wah….saya menjadi bersyukur pada alam Indonesia, setau saya para atlit dayung tanah air memiliki tempat yang lebih layak untuk berlatih di bandingkan apa yang saya lihat disini.
nunggu vaporetto
jatuh cinta ama kota kanal ini
Venice. Rasanya saya takkan mampu mendeskripsikan keindahannya dengan kalimat sepanjang apapun. Turun dari kereta Trenitalia di stasiun Santa Lucia saya langsung menuju penitipan koper lalu membeli tiket untuk naik vaporetto atau waterbus seharga €16 yang berlaku selama 12 jam sejak divalidasi (bukan sejak membeli). Ini adalah tiket termahal yang pernah saya beli selama di Eropa.  Mahal menjadi murah saat menyaksikan keindahan kota kanal seluas 412 km2 ini. Saya tidak menyewa gondola karena tarifnya ‘mengerikan’ yaitu €80 untuk 40 menit pertama dan €40 untuk 20 menit berikutnya dengan maksimum penumpang 6 orang. Wah…..mending buat beli baju aja di Milan hahaha. Dan Alhamdulillah Rey juga tidak merengek minta naik gondola. Saat naik vaporetto Rey memilih duduk dikursi terdepan, “biar seru mami” begitu dia beralasan. Selama perjalanan menuju San Marco salah satu distrik favorit para turis ini, saya tak henti mengabadikan keindahannya. “keren banget ya mami, Rey suka”, “tumben suka ama yang beginian Rey’ tanya saya ragu, “iya soalnya airnya bersih, nggak kayak di Amsterdam dan di Bangkok” jawabnya.
San Marco
Piazza San Marco atau St. Mark’s Square adalah tujuan kami. Walau masih pagi alun-alun yang dikelilingi bangunan indah sebagai landmark kota Venice ini telah dipadati turis. Bahkan antrian masuk ke gereja St. Mark’s Basilica terlihat sudah panjang. Rey disini senang dengan banyaknya burung dara, dia berlari mengejar dan sesekali memberi makan burung-burung itu. Padahal sebenarnya pemerintah setempat sejak 1 Mei 2008 telah melarang memberi makan burung, tapi hal itu tak diindahkan oleh para turis termasuk kami xixixi.
@Museum Galileo Florence
Gembok cinta @Ponte Vecchio, Florence
Florence.  Kami menginap di hotel Giappone yang hanya membutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki dari Santa Maria Novella Station.  Kamar hotel ini  memiliki fasilitas free wifi, king size bed, private bathroom tapi sharing toilet dan tanpa layanan sarapan. Untuk menuju destinasi wisata tujuan kami yaitu museum Galileo dan jembatan Ponte Vecchio di atas sungai Arno kami hanya berjalan kaki dari hotel. Tadinya saya ingin melihat patung David karya Michelangelo yang kondang itu tapi Rey langsung menggeleng sambil berkata “pasti patungnya telanjang, Rey nggak mau liat dan nggak mau mami ngliatnya. Jorok ….”, Hmmm….saya akhirnya mengubur keinginan itu.  Museum Galileo merupakan museum sains ‘jadul’. Salah satunya adalah adanya jam yang dibuat pada abad ke-14 yang masih berfungsi dengan baik. Selain itu masih banyak benda lainnya seperti : alat penangkal petir (tentu versi jadul dan berukuran besar), globe, penggaris, jangka, pena, dan lain-lain (semuanya berukuran besar). Intinya, museum ini memberi informasi tentang sejarah ditemukannya berbagai macam benda dan teori sains lengkap dengan nama penemu dan pajangan bendanya. Sayang…. semua benda disini tidak boleh diambil gambarnya, tidak boleh disentuh ataupun dimainkan. Rey cukup antusias  walau tidak se-excited saat dia bermain alat-alat di museum sains modern.”kekurangannya cuma satu mami, alat-alatnya nggak bisa dicoba dan dimainin”ucapnya agak kecewa, “iya dong sayang, semua benda ini kan umurnya udah tua, kalo dimainin ntar rusak semua, kan pasti rapuh” jawab saya memberi alasan. Rey menjadi tahu lebih banyak tentang asal-usul ditemukannya teori-teori sains yang dia pelajari di sekolah dan melihat langsung bendanya. Hal ini membuat pengetahuannya menjadi lengkap karena Rey telah mengunjungi beberapa museum sains modern.
'balancing style'
Pisa. Di kota kecil dan sepi ini turis hanya terpusat perhatiannya pada menara Pisa, begitu juga dengan kami. Menara Pisa adalah bangunan yang sangat Rey ingin lihat karena dia penasaran bagaimana menara itu bisa berdiri miring, dia ingin melihat langsung dasar dari bangunan itu. Kini kepenasaran itu sudah terpuaskan yang sekaligus mengakhiri petualangan kami di Italia. Selanjutnya kami akan terbang ke London untuk kembali ke tanah air melalui Kualalumpur.
Pembelajaran untuk Reyhan : -  Mengenal dan mensyukuri keindahan alam ciptaan Allah SWT
-  Mengetahui sejarah ditemukannya teori-teori sains
Alhamdulillah Euro Trip kami selama 16 hari/15 malam ke 7 negara/12 kota menginap 11 malam di hotel/4 malam di bandara telah selesai. Tanggal 12 April 2011 kami kembali ke tanah air. Setiap langkah membawa kesan dan menjadi pengalaman yang tak bisa diukur dengan materi yang telah dikeluarkan. Satu hal yang saya yakini, mustahil perjalanan ini dapat berjalan lancar dan selamat tanpa perlindungan dari sang maha pelindung yaitu Allah SWT. Teringat pesan salah satu sahabat yang amat sangat ‘membekas’ hingga kini. Dia adalah  seorang petugas cleaning service di kantor  yang memberi nasehat saat saya mengungkapkan kegelisahan menjelang kepergian ke Eropa, “Jangan khawatir bu… Eropa juga kan milik Allah dan kalau langkah ibu disana nggak ke arah maksiat, InsyaAllah pasti bakal  dimudahkan dan dilindungi”. Nuhun pisan pak Asep atas nasehat yang sangat ‘dalam’ itu, yang membuat kami mendapat begitu banyak kemudahan. Dan tentu tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada papa, adik-kakak, sahabat dan teman yang tak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih atas doa kalian semua.

No comments:

Post a Comment